MONGGO DIPUN SEKECAAKEN RUMIEN . sieakang mengucapkan selamat tahunbaru 2012, semoga sukses sll..hehehehe

Kamis, 07 Juni 2012

BALIZIEKTE ( fotosensitisasi)

PENDAHULUAN
Ditinjau dari sistematika ternak, sapi Bali :
Familia Bovidae,
Genus bos dan
Sub-Genus Bibos,
Sub-genus Bibos gaurus, Bibos frontalis dan Bibos sondaicus (Hardjosubroto, 1994), 
keluarga cemaran

        Sapi Bali mempunyai ciri-ciri khusus antara lain; warna bulu merah bata, tetapi yang jantan dewasa berubah menjadi hitam (Hardjosubroto, 1994). Satu karakter lain yakni perubahan warna sapi jantan kebirian dari warna hitam kembali pada warna semula yakni coklat muda keemasan yang diduga karena makin tersedianya hormon testosteron sebagai hasil produk testes (Aalfs, 1934 dalam Darmaja, 1980).


         Merupakan HPHK Gol. II (OIE Tipe B). Penyakit bali ziekte pertama kali ditemukan pada tahun 1925 di beberapa tempat di Bali, yang kemudian juga ditemukan di sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

ETIOLOGI 
Lantana Camara
       Penyebab penyakit ini:Keracunan (intoksikasi) beberapa jenis tumbuhan seperti Medicago, Trifolium, Hipericium, atau lantana camara (tembelek ayam) yang disebut kerasi. Lantana camara mengandung lantadene-A yang bersifat hepatotoksik (Zat ini menyebabkan keracunan hati sehingga hati melepaskan zat yang dapat meningkatkan kepekaan kulit terhadap sinar matahari. Hewan peka : Sapi Bali

GEJALA KLINIS 
     Gejala klinis :
  1. Depresi, suhu tubuh dan pulsus meningkat, lakrimasi, hipersalivasi, mukosa mata, mulut dan vagina berwarna kekuning-kuningan,telinga menggantung, erosi(luka) pada lidah, telinga bengkak dan menebal dan menyempit;
  2. Mortalitas rendah;
  3. Kerugian tinggi karena pertumbuhan laju bobot badan yang rendah;
  4. Kematian timbul karena infeksi general(sepsis) akibat adanya infeksi sekunder pada luka yang terbuka dihinggapi lalat kemudian terjadi miasis sehingga ini akan memperparah kondisi sapi yang sakit;
PATOLOGI ANATOMI 
  1. Ikterus yang meluas pada karkas,
  2. Hati membengkak dan berwarna kekuningan
  3. Ginjal berwarna kuning pucat dan bengkak
Cara Penularan
Kontak tidak langsung

DIAGNOSA 
  1. Keterangan tentang pakan.
  2. Gejala klinis (eriytema, dermatitis ) foto phobia (takut sinar matahari)
  3. Analisa kadar bilirubin dan enzim-enzim hati SGPT, SGOT,GDH
DIAGNOSA BANDING 
      1.   Kaskado
       Kaskado atau mikrofilariasis adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan cacing nematode. Serangan cacing ini menyebabkan timbulnya keropeng /luka pada kulit dengan rasa gatal pada bagian yang terluka , berat badan menurun, sapi menjadi gelisah, menggangu proses makan dan minum, luka dihinggapi lalat.
       2.   Scabies
      Keropeng kulit, hewan gelisah.

PENCEGAHAN 
  1. Eliminasi semua tanaman yang bersifat hepatotoksik di sekitar area pemeliharaan.
  2. Peningkatan produksi pakan hijauan untuk mencegah kasus keracunan.
PENGOBATAN 
       Dasar pengobatan etno-veteriner untuk penyakit ini adalah mengeliminasi racun yang ada dalam sirkulasi darah dengan beberapa tahapan sebagai berikut :
  1. Sapi ditempatkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung
  2. Berikan air minum dalam jumlah yang banyak
  3. Luka ditutup dengan campuran Kapur + Biji Pinang (Areca catechu) + Kunyit (Curcuma domesticate rhizoma) (2 : 1 : 2 dalam berat) selama 3 hari berturut-turut. Semua bahan dihaluskan dan dicampur menjadi satu, kemudian ditambah dengan sedikit air, hingga berbentuk krim atau lotion.
  4. Sementara sapi diberikan makanan yang bersifat detoksikatif seperti : Rambutan + garam atau Mentimun + garam. (3 kg + 3 sendok makan garam) per hari untuk sapi dewasa (125 – 200 kgm. Bobot Badan) selama 3 hari berturut-turut, atau diberikan air kelapa sebanyak 5 butir kelapa per hari selama 3 hari berturut-turut.
  5.  Pencegahan infeksi sekunder dilakukan dengan pemberian bawang putih (50 gram-100 gram untuk sapi dewasa) yang dihancurkan dan dicampurkan dengan konsentrat, kemudian dibentuk seperti bola-bola kecil dan diberikan per hari selama 5 hari berturut-turut, ramuan ini lebih baik lagi bila ditambah dengan temulawak (Curcuma xanthorrica) (50 gram untuk sapi dewasa) untuk mempercepat regenerasi sel-sel hati. Dosis untuk sapi muda lebih kurang ¼ - ½ dosis sapi dewasa.
  6. Sapi akan segera menunjukkan reaksi kesembuhan dalam waktu 7 hari. 
 Penyusun :

Senin, 09 Januari 2012

Jangan PCARAN , mari MENIKAH

akangmase
    istilah PACARAN memang di artikan bermacam-macam oleh sebagian orang sekarang ini.mereka menganggap pacaran adalah sebuahupaya untuk belajar mencintai lawan jenis, tetapi sebagian lain menganggap PACARAn adalah sebuah cara serius menuju jenjang pernikahan. tetapi istilah istilah semua itu salah kaprah bila di pandang dari sudut ISLAM




    islam memberikan obat mujarab bagi mereka yang telah dilanda CINTA, yaitu dengan suatu PERNIKAHAN yang sah. PERNIKAHAN adalah salah satu solusi yang sangat amat tepat bagi mereka yang sedang bdimabuk cinta. bila ada dua insan yang sedang dilanda cinta, kondisi hatipun menjadi gundah dulana tak menentu. hati selalu ingin berjumpa dengan orang yang mereka cintai.
sabda Nabi :

         Namun masalahnya adalah pernikahan dipahami menjadi sesuatu yang amat berat dan besar bagi seorang muda mudi. gara gara presepsi yang seperti itulah mereka memilih untuk berpacaran dari pada mereka melakukan pernikahan yang sah di mata agama.sebelum menjadi pasangan suami istri yang sah di mata agama, sebagian orang melakukan proses penjajakan, salaing menjajaki antar satu dengan yang lainya. mulai dari sifat-sifaatnya, kepribadian bahkan sampai pada penjajakan pada fisiknya. mereka melakukan penjajakan jauh jauh hari sebelum bener benar untuk menikah (belum menjadi makhrom).
maka barang siapa yang sudah terlanjur basah dalam hal PACARAN lebih baik untuk segera menyadari. bila hati sudah merasa cocok sebaiknya segeralah menikah dan membangun rumah tangga yang di ridhoi Alloh. dan terjauh dari perbuatan maksiat dan zina.
         karena sesehat apapun pacaran yang kita lakukan tetap cenderung mengarah ke kemaksiatan dan zina, setan akan sangat mudah menggelincirkan hati untuk berbuat zina.